
Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu — Mahasiswa Bina Desa UPN “Veteran” Jawa Timur tahun 2026 menghadirkan inovasi berupa pembangunan sistem biofilter untuk membantu mengatasi permasalahan bau pada kandang budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Program ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Budidaya maggot BSF sendiri menjadi salah satu solusi pengelolaan limbah organik yang mulai berkembang di Desa Giripurno. Selain mampu mengurai limbah dengan cepat, maggot juga memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai bahan pakan ternak. Namun di balik manfaat tersebut, proses dekomposisi limbah organik sering menimbulkan bau menyengat akibat gas amonia (NH₃) dan hidrogen sulfida (H₂S), terutama saat musim hujan ketika kelembapan meningkat dan sirkulasi udara kurang optimal.

Kondisi ini sempat menjadi perhatian warga karena bau yang muncul dapat mengganggu kenyamanan. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Bina Desa merancang sistem biofilter sederhana berbentuk kolom vertikal menggunakan drum plastik berkapasitas 120 liter. Biofilter ini terdiri dari empat lapisan utama, yaitu kerikil sungai sebagai penyangga dan drainase, arang kayu untuk menyerap senyawa volatil dan H₂S, zeolit alam yang berfungsi mengikat amonia, serta sekam padi sebagai media penahan kelembapan sekaligus tempat tumbuh mikroorganisme pengurai.
Sistem kerja biofilter ini cukup sederhana. Udara dari dalam kandang dialirkan menggunakan pompa aerator melalui setiap lapisan media, sehingga gas-gas penyebab bau dapat tersaring dan diuraikan sebelum dilepaskan kembali ke lingkungan. Dengan cara ini, intensitas bau yang keluar dari kandang dapat berkurang secara signifikan.
Menariknya, seluruh bahan yang digunakan berasal dari material lokal yang mudah ditemukan dan memiliki biaya yang relatif murah. Hal ini membuat teknologi biofilter lebih mudah diterapkan oleh masyarakat tanpa membutuhkan alat yang rumit ataupun biaya besar. Proses pembuatannya pun dilakukan secara gotong royong bersama kelompok tani, sehingga masyarakat tidak hanya menerima hasilnya, tetapi juga memahami cara kerja, pengoperasian, hingga perawatannya.
Sebagai bentuk keberlanjutan program, mahasiswa Bina Desa juga menyusun modul panduan teknis yang berisi langkah pembuatan, jadwal perawatan rutin, hingga solusi jika terjadi kendala selama penggunaan biofilter. Harapannya, masyarakat dapat menjalankan dan merawat sistem ini secara mandiri setelah program Bina Desa selesai.
Harapannya, kelompok budidaya maggot di Desa Giripurno dapat membentuk tim pemeliharaan biofilter secara bergantian agar sistem tetap berjalan optimal. Pemerintah desa juga didorong untuk memberikan dukungan melalui alokasi Dana Desa, terutama untuk penggantian media filter secara berkala. Dengan adanya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan perguruan tinggi, inovasi sederhana ini diharapkan mampu menjadi solusi jangka panjang bagi budidaya maggot yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
